Nestapa Asmaraloka
![]() |
ilustrasi from freepik |
Sudah satu tahun
terakhir tempat itu seperti tak bernyawa. Tak ada lagi alunan merdu gamelan
yang tiap sore saling bersahutan. Tak ada lagi anak kecil yang beramai-ramai
datang ke sana, hanya untuk sekadar menonton pementasan. Pun tak lagi ditemukan
gerakan gemulai dari Eyang Rengganis, pendiri sekaligus pemilik sanggar tari
Asmaraloka.
Wanita sepuh itu seperti
telah kehilangan semangatnya untuk melestarikan tradisi turun temurun dari
leluhurnya. Dulu, ia sempat mengajak beberapa anak kecil di sekitar untuk melihat
pementasan tari di sanggarnya lagi. Namun, usaha itu menjadi sia-sia ketika
mereka lebih memilih menonton dance modern dari gawainya masing-masing.
“Nonton dance lebih
asyik, Eyang. Lagunya nggak bikin ngantuk,” Seorang anak perempuan berkepang
dua menjawab seraya menunjukkan ponsel pintar miliknya.
Eyang Rengganis
hanya mampu menatap iba pada bangunan tua yang hampir kehilangan nyawa itu. Berpuluh-puluh
tahun yang lalu, ia merintis perjuangan untuk mendirikan sanggar tari yang
sempat besar pada masanya. Bersama dengan suaminya, mereka mengajarkan tradisi
leluhur itu dengan sabar. Eyang Rengganis menjadi guru tari, sedangkan suaminya
mengajarkan cara bermain gamelan. Namun sepeninggal Eyang Rahardjo satu tahun
yang lalu, perubahan itu datang. Anak-anak seperti kehilangan motivasi untuk
belajar, perlahan meninggalkan Eyang Rengganis dan sanggar tari Asmaraloka
sendirian.
***
Seperti hari-hari sebelumnya,
Eyang Rengganis akan melakukan rutinitas pagi. Mengusap satu persatu benda di
dalam sanggar untuk sekadar mengingat suaminya. Jika ia menatap gamelan di
sudut ruangan itu, bayangan Eyang Rahardjo ketika mengajar anak-anak berkelebat
dalam kepalanya. Laki-laki itu adalah sosok paling sabar yang pernah ia kenal,
bahkan ketika mengajar anak-anak yang bandel sekalipun.
“Kita harus
mengajarkan seni dengan hati, bukan ambisi.” Ucapnya ketika Eyang Rengganis
mengeluh tentang sulitnya mengajarkan gerakan tari kepada anak-anak. “Supaya
tradisi ini bisa melekat dalam sanubari mereka.”
Tanpa sadar air
matanya menetes, ia tersenyum kecut. Mengingat tak ada lagi anak-anak yang
menguji kesabarannya, ketika mereka sulit sekali menghafal gerakan paling
sederhana. Ia berjalan menyusuri ruangan, membuka daun jendela yang juga
bergaya tradisional. Jendela berdaun du yang dibatasi oleh jeruji dari kayu.
Matanya menyipit ketika melihat seseorang tengah berdiri di seberang jalan
menatap sanggar tari, Eyang mendekatkan kaca matanya untuk memperjelas
pandangan.
Seorang pria
berkulit putih berpakaian ala turis mancanegara, kaos oblong dan kacamata hitam
yang ia kenakan. Beberapa kali mengecek ponselnya, lalu kembali menatap
bangunan tua di hadapannya. Pria bule itu menyeberangi jalanan yang cukup
lengang.
Tiba di halaman,
pria itu kembali mengecek ponselnya. Eyang sedikit terkejut melihat kedatangan seorang
bule ke sanggar tari Asmaraloka, setelah sekian lama. Ia buru-buru keluar untuk
menyambut kedatangan orang itu.
Bule itu buru-buru
melepas kacamata ketika melihat Eyang Rengganis muncul di ambang pintu.
“Is this Asmaraloka?”
tanya si bule dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Eyang. Akan tetapi, wanita
sepuh itu hanya mengangguk ketika mendengar nama sanggarnya disebut.
“Okay. I’m Dave,
i want to know about this picture.” Ucap bule itu seraya menunjukkan gambar
yang ada di ponselnya.
“Oh, gamelan.” Seru
Eyang kegirangan melihat gambar benda itu, melupakan kata-kata bule yang tak ia
pahami. “Mari masuk, Mister!”
Bule itu tampak
menunjukkan kekaguman saat melihat benda-benda antik di ruangan itu.
Seperangkat gamelan yang masih terawat, terbilang sangat lengkap. Sesekali ia
bertanya kepada Eyang Rengganis, apa ia boleh memainkannya. Lagi-lagi Eyang
Rengganis hanya mengangguk. Euforia yang sempat redup kembali bersinar,
bersamaan dengan binar ketertarikan yang ia temukan pada diri bule asing itu.
Fadil, seorang
pemuda yang dulu menjadi murid kesayangan Eyang Rahardjo turut menyimak
pembicaraan mereka. Ketika mengetahui bahwa seorang bule datang ke sanggar tari
Asmaraloka, ia buru-buru datang untuk menengok.
“Bule ini pengen
belajar gamelan, Eyang.” Ujar Fadil mencoba menjelaskan keinginan bule itu.
Binar kebahagiaan kian terpancar dari sorot mata Eyang Rengganis, keajaiban
yang selama ini diharapkannya telah tiba.
Saban sore,
sanggar itu memperdengarkan alunan merdu dari tabuhan gamelan, berikut dengan gending¹
Jawa yang dinyanyikan oleh Eyang Rengganis. Melihat antusias bule untuk
belajar, tampaknya warga sekitar juga ikut bersimpati. Mereka, para pemuda
kampung yang hanya menghabiskan waktu bermain gadget, kini duduk berjejer
menghadap peralatan gamelan. Memainkan musik itu penuh semangat.
***
Terhitung satu
bulan semenjak kedatangan bule yang Eyang anggap sebagai malaikat penyelamat, yang
karenanya sanggar tari Asmaraloka kembali hidup. Seperti biasa, jika pukul tiga
sore Eyang akan menunggu kedatangan bule itu dengan menyapu halaman. Tak sabar
rasanya kembali mengajarkan musik tradisional itu kepada orang lain.
Ketika sedang
menikmati kegiatannya, tiba-tiba Fadil berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
Membuat Eyang Rengganis menatapnya keheranan.
“Eyang ... Eyang
...” panggil Fadil sambil berlari. Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
“Kamu kenapa
lari-larian? Sebentar, belajarnya nunggu wong Londo² itu datang.” Ujar
Eyang Rengganis yang masih melanjutkan aktivitasnya.
“Itu masalahnya,
Eyang ...” ucap pemuda itu dengan napas memburu. “ ... bule itu nggak akan
datang lagi ke sini.”
Mendengar
perkataan itu, sapu yang dipegangnya terjatuh.
“Kamu ngomong apa,
sih? Sudah pasti dia ke sini, mungkin lima belas menit lagi. Biasanya juga jam
tiga seperempat udah datang.” Eyang mencoba menyangkal perkataan Fadil yang tak
masuk akal menurutnya.
“Eyang lihat nih
berita di internet,” ujar Fadil seraya menyodorkan ponselnya kepada Eyang
Rengganis. Beliau melekatkan kacamata, menatap ponsel milik Fadil lekat.
Ia tampak
mengenali wajah yang tak asing lagi dalam foto itu, dengan senyum khas yang dimilikinya.
Orang itu tampak tersenyum bangga sambil memainkan gamelan. Eyang Rengganis
masih belum mengerti maksud dari foto itu, apa salahnya jika Dave bermain gamelan.
Bukankah bagus jika ia telah mahir memainkan alat musik itu.
“Terus kenapa kamu
bilang dia nggak akan ke sini?” tanya Eyang keheranan.
Lawan bicaranya
yang juga seorang mahasiswa itu menghela napas berat, wajar jika Eyang tak
mengerti. Penglihatannya telah menurun karena termakan usia, meski telah
mengenakan kacamata.
“Lihat, Eyang. Di
sini tertulis jelas, kalau Dave bilang musik yang dia mainkan berasal dari
daerah asalnya. Terbukti dengan dia yang mahir memainkan musik itu,” jelas
Fadil menggebu.
“Lho, kok
gitu? Gamelan itu asli Indonesia,” seru Eyang terkejut. Bagaimana bisa Dave mengatakan
seperti itu, padahal jelas-jelas dia belajar alat musik itu darinya. Selama
satu bulan dia belajar cara memainkan gamelan di sanggar tari Asmaraloka.
“Nah, itu dia
masalahnya. Bukan berarti karena dia pintar main gamelan, terus seenaknya
sendiri ngaku-ngaku. Ini nggak bisa dibiarkan, Eyang.” Pemuda bernama Fadil itu
bersungut-sungut marah, jarinya sudah siap mengirimkan komentar pedas ke
postingan itu.
Eyang terduduk di
atas tanah, persendiannya lemas seketika. Sesuatu yang selama ini dikhawatirkan
oleh suaminya terjadi. Saat itu ketika mereka sedang duduk bersama, Eyang
Rahardjo pernah berucap kepadanya.
“Jangan sampai
kita menyesal suatu saat nanti, ketika orang lain lebih mengerti budaya kita
daripada pemiliknya sendiri. Bukan mereka yang serakah, Bu. Tapi kita yang
lengah.” Eyang Rahardjo mengucapkan itu dengan senyuman, meski dari gurat
wajahnya terpancar kekhawatiran.
“Aku mau lapor
dulu, Eyang.” Ujar Fadil hendak beranjak dari halaman.
“Tunggu! Ini bukan
sepenuhnya salah mereka. Kita yang lengah, Le.” Eyang mengucapkan itu
dengan lirih.
“Tapi, Eyang ...”
Wanita sepuh itu
berjalan dengan langkah gontai, meninggalkan Fadil yang masih mencerna
perkataan Eyang Rengganis. Sore itu menjadi waktu terakhir pintu sanggar tari
Asmaraloka terbuka, Eyang Rengganis menutup rapat tempat itu. Mengurung diri
adalah bentuk penyesalan terbesarnya. Ia akan terus menunggu, hingga takdir
kembali mempertemukannya dengan Eyang Rahardjo, pada dimensi yang berbeda. Jika
mereka bertemu di surga nanti, akan ia katakan pada suaminya, “Kita telah
lengah.”
***
¹ Gending adalah istilah yang digunakan masyarakat karawitan Jawa, Sunda, dan, Bali, untuk menyebut bentuk komposisi musikal karawitan yang menyajikan seni suara instrumental, yang juga melibatkan vokal sebagai pelengkap dari sajian seni suara yang berasal dari seperangkat gamelan.
² Sebutan orang Jawa khususnya kepada orang asing yang berkulit putih.
Tamparan buat orang-orang yang masa bodoh dengan budaya. Semakin modern sebuah zaman, alangkah bijaknya jika kita tidak ikut terbuai di dalamnya, tapi memanfaatkannya untuk melestarikan budaya.
Pengingat untuk tidak lengah terhadap yang dipunya, sehingga lupa melestarikannya. Baru kelabakan saat orang lain merasa memilikinya.