Apakah Jogja Seistimewa Katanya?
![]() |
sumber: Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Kota Yogyakarta |
Jalanan yang padat sejak fajar menyingsing hingga senja mulai manslup,
Angkringan murah meriah yang berjejer sejauh mata memandang,
Juga kesibukan kota yang tiada habisnya.
Seistimewa namanya, rupa-rupanya ia benar memiliki daya pikat,
Nan membuatku hanyut dalam euforia yang kian lekat.
Wahai, bolehkah aku menetap lebih lama
Menatap dengan saksama
Pada tiap sudut kotamu yang istimewa,
Yogyakarta.
*
Sajak sederhana tersebut saya buat setelah satu bulan merantau di Yogyakarta, kota yang dielu-elukan istimewanya. Apa yang terjadi bulan pertama di tanah rantau? Saya yakin banyak yang tahu jawabannya, yap, apalagi kalau bukan kangen rumah. Raganya di sini tapi pikirannya berkelana, belum bisa living the moment.
Perasaan ini tidak hanya saya alami di bulan pertama, tetapi berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya. Apalagi kalau sudah capek kuliah atau sedang sakit, rasa rindu rumah itu berlipat-lipat. (Eh, tapi kan judulnya tentang Jogja ya, kok saya jadi curhat. Punten :v)
Oke, ngomong-ngomong tentang Jogja, ada banyak hal yang mungkin bakal dirindukan ketika sudah tak lagi di sini. Kangen suasananya mungkin atau kultur budayanya, juga angkringan yang berjejer di sepanjang jalan, Malioboro yang tidak pernah sepi, sampai gudeg yang manisnya nempel banget di lidah.
For your information, Yogyakarta itu menjadi titik awal pemikiran saya lebih terbuka. Bahwa dunia nggak sesempit itu loh, ada banyak hal yang bisa kita eksplor, ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi, orang-orang yang kita temui, dan tentu semua itu membawa pelajaran berharga.
Toleransi di sini juga cukup tinggi menurut saya. Orang-orang yang berbeda agama, suku, ras bisa berbaur menjadi satu. Di kampus saya misalnya, ada banyak orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, tapi semuanya bisa berteman dengan baik tanpa ada judge. Dan ternyata seru juga punya teman yang beda daerah, jadi bisa memperkaya wawasan kita tentang beragamnya Indonesia.
Terlepas dari julukan ‘istimewa’ yang melekat pada Jogja, tentu ada beberapa hal yang perlu dibenahi dari kota ini. Persoalan sampah misalnya, semenjak TPA Piyungan resmi ditutup, saya banyak menemui sampah yang menggunung di beberapa sudut jalan.
Lucunya, ada banner besar berisi larangan membuang sampah, tetapi di situ justru ada kantong sampah yang menumpuk. Entah banner yang kurang besar sehingga tulisan tidak terbaca atau kepedulian soal sampah yang berada di level tiarap.
Lantas tindakan apa yang diambil pemerintah DIY terkait masalah ini? Pemda DIY mengatakan bahwa pengolahan sampah menjadi tanggung jawab Kabupaten/Kota. Secara tidak langsung kan meminta masyarakat untuk kreatif mencari solusi dalam mengelola sampah.
Sebenarnya maksud pemerintah ini baik, supaya masyarakat mulai peduli perihal sampah dan tidak ketergantungan sama pemerintah. Tetapi jika belum ada kesadaran juga bukannya makin menambah masalah?
Maksud saya tidak semua masyarakat mengerti cara mengelola sampah yang benar, bagaimana jika sampah tidak diolah tetapi dibakar yang justru kian menambah polusi udara? Alangkah baiknya sebelum menyerahkan tanggung jawab kelola sampah, pemerintah memberikan edukasi terlebih dahulu kepada masyarakat.
Jika Pemda memberi penyuluhan dan fasilitas yang memadai terkait pengelolaan sampah, maka perlahan kesadaran masyarakat akan terbentuk. Sesimpel memilah sampah mulai dari sampah rumah tangga, kantor, industri, atau kampus. Meskipun kondisi di lapangan tidak akan semudah itu, tapi setidaknya kan ada upaya penyelesaian daripada hanya melempar tanggung jawab.
Itulah salah satu sisi lain Jogja yang jarang diketahui orang. Setiap kota tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun akan lebih bijak lagi jika kita tidak hanya mengingat Jogja sebagai kota istimewa saja, tapi mulai membuka mata pada persoalan yang ada. Supaya istimewanya Jogja tetap terjaga sepanjang masa dan bisa dinikmati sampai generasi mendatang.
Biasanya saya mendengar kabar yang baik-baik mengenai Jogja. Ini pertama kali saya mengetahui perihal sisi gelapnya. Yang harus disadari, di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar-benar tidak mempunyai cela. Namun, itu bukan alasan untuk tidak berusaha untuk menjadi lebih baik. Semoga Jogja bisa berbenah dalam pengelolaan sampah ini. Sehingga Jogja menjadi makin istimewa.
Jogja memang kota istimewa...entah daya tariknya sangat kuat...suka banget sama suasana jogja...menikmati jogja dengan jalan kaki atau bersepeda atau nikmati alam pegunungannya sangat indah sekaliiii...ah jdi pengen ke jogja lagiiii
Gimana ya haha. Kalau menurutku, Jogja itu istimewa hanya untuk dikunjungi, bukan ditinggali. Nggak munafik, aku juga kalau keluar dari Jogja, banyak hal dari Jogja yang kurindukan. Tapi kalau menetap, banyak sekali yang harus dikritisi. Masalah UMR, sampah dan lain lain. Biar begitu, aku tetap bertahan di Jogja, karena fasilitas pendidikan untuk anak-anak, kok keren keren semua.
kalau pendidikan di Jogja emang aku akui bagus sih kak, kalo dateng ke perpustakaannya misal itu isinya orang ambis semua. jadi mungkin buat pendidikan oke, tapi kalo kerja mungkin perlu dipertimbangkan lagi mengingat umr Jogja ya begitulah, hehe
Jujurly very jujurly, aku suka Jogja karena memang vibesnya itu beda banget, tradisional dan kental dengan adat istiadat. Tapi kalo disuruh tinggal menetap di Jogja kayaknya enggak dulu hehe. Nggak tau kenapa, cuma bagiku yang setiap hari makannya sambel bawang ini, makanan di Jogja kok di lidahku rasanya banyakan yang manis ya? 😂😂
iya kak, memang kebanyakan manis sih. mungkin kalo pengen nyari yg pedesnya pas bikin sendiri
Nah ini, di sana masih banyak yang bakar sampah, bahkan api dan asapnya sampai tinggi banget. Mungkin karena nggak punya TPA atau gimana ya, jadi warga banyak yang mengambil solusi membakar sampah.
kemungkinan gitu sih kak, solusi cepat tapi kurang tepat