I'm Fine!
Hiruk pikuk suasana rumah di akhir pekan tak membuat perasaan ini enyah. Boleh dikatakan jika aku merasa sepi di antara keramaian, pikiranku justru berkelana tak tentu arah. Ingin rasanya saat itu juga menghilang dari ruang keluarga tanpa sepengetahuan ibu, supaya tidak ditanyai macam-macam. Rasa tidak nyaman ini tak tertahan lagi, aku beringsut mundur ketika semua orang tengah serius mendengar cerita Ayah.
Saat melihatku berdiri, ibu menatapku dengan tanya. “Weekend, Sayang. Kamu tahu kan ini waktunya kumpul sama keluarga.”
Aku menghela napas pasrah. Tolong sekali ini saja, aku ingin sendiri.
“Aku mau bikin proposal buat ekstra, Bu. Besok harus dikumpulin,” pintaku dengan wajah memelas.
“Besok masih hari Minggu kan?” Alasan konyol, kenapa aku sampai lupa hari.
“Ehm i-itu, masih banyak yang harus direvisi,” kilahku lagi. Kali ini ibu menyerah, mengibaskan tangannya melepasku dari interogasi tak berujung.
Begitu masuk kamar, aku mengunci pintu rapat-rapat. Merebahkan tubuh di atas kasur, lalu menutup muka dengan bantal. Lagi dan lagi, aku merasa lelah tanpa sebab. Baru tadi sore aku merasa senang, kini tiba-tiba dirundung perasaan gamang. Saat seperti ini dalam pikiranku justru berkelebat kepingan masa lalu, seperti film yang diputar otomatis.
Gambaran itu beralih dengan cepat, dari satu tempat ke tempat lain. Bermula saat aku mengawali masa SMA di sebuah sekolah swasta. Seperti pada umumnya, masa orientasi siswa menjadi hal paling menarik buatku. Semua berjalan seperti biasa, hingga suatu hari aku kelelahan karena kegiatan di asrama. Tubuhku drop selama beberapa hari, membuatku hanya bisa terbaring lemah.
Ingatan itu berganti lagi, saat aku harus terbaring di rumah sakit. Rasa sesal itu menyeruak begitu saja, menyalahkan keputusan yang kupilih. Andai saja, gumamku entah ke sekian kalinya. Pusing, memori di kepalaku berputar layaknya kaset rusak. Terus memutar kejadian yang sama berulang kali.
Aku membenamkan wajahku di atas bantal, lalu menangis sekencang-kencangnya tanpa takut didengar orang lain. Ya Tuhan, aku berharap bisa menghilang saat ini juga. Dan semua kembali seperti semula.
***
Ilana, begitu kebanyakan teman memanggilku.
Senin pagi, aku disibukkan dengan revisi proposal sana-sini setelah konsultasi dengan pembina ekstra. Mulai dari halaman pertama hingga terakhir, tak luput dari coretan tinta merah.
“Lan, ini kamu benerin dulu sebelum minta tanda tangan Pak Handoko, ya,” ujar Bu Dian seraya menyerahkan lembaran proposal kepadaku.
“Iya, Bu.”
Sayangnya aku tak tahu-menahu tentang apa yang sejak tadi dibicarakan guruku. Bukannya tidak sopan, tapi pikiranku tidak bisa konsentrasi. Aku mencoba berkali-kali untuk memperhatikan dengan saksama, tapi seolah ada sesuatu yang menghalang-halangi. Seperti melihat orang lain berbicara, tapi tak memahami apa yang dibicarakan.
“Ilana, kamu ngerti kan yang saya bilang tadi?”
Aku hanya mengangguk, lalu pamit dari sana. Begitu tiba di kelas, suasana begitu riuh dengan tawa. Aku yang baru masuk, tiba-tiba diseret oleh temanku untuk diajak bergabung. Winda, teman sebangku yang paling antusias menceritakan gosip di SMA ini. Entah dari mana dia bisa mendapat informasi seperti itu.
“Lan, lo tahu Arlan nggak?” celetuk Winda begitu aku tiba di kerumunan mereka. “Kemarin gue lihat dia loh ...”
Ucapannya terputus dari pendengaranku, seolah dia begitu jauh hingga aku tak mampu mendengar. Pikiranku terasing, tersesat di tempat senyap yang tak kutemukan suara apa pun. Hanya kemelut di kepala yang kian bertumpuk.
“Lan! Lana!” seru Winda seraya menepuk wajahku pelan. “Lo kenapa? Pucat banget.”
“Gu-gue nggak apa-apa, kok,” kilahku dengan senyum samar.
“Lo kayak nggak fokus gitu, sakit? Atau ada masalah?” imbuh Rania dengan wajah panik, dia menyentuhkan telapak tangannya di keningku.
Aku beringsut mundur, menghindar dari serbuan pertanyaan mereka. Aku bahkan tak tahu apa nama yang tepat untuk perasaanku saat ini. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, berharap beban yang ada di pikiranku turut menguap.
Begitu melihat salah satu kamar mandi yang kosong, aku buru-buru memasukinya. Menyalakan keran supaya tangisku tak terdengar dari luar. Benar saja, persendian kaki terasa begitu lemas hingga memaksaku bersandar pada dinding. Aku menangis hingga terisak, tak peduli lagi dengan mataku yang sembap. Aku benci semua ini. Rasa bersalah, penyesalan tak berujung, dan memori yang berputar acak di kepala. Aku benci hidupku yang sekarang!
Tiba-tiba, di tengah kacaunya pikiran dan perasaan, aku mendengar suara yang begitu dekat denganku. Entah datang dari mana, suara itu seolah berbicara kepadaku.
“Dasar lemah! Sakit gitu aja sampai berhenti sekolah!”
Suara itu benar-benar menyakitkan untuk kudengar, tapi ada satu hal yang lebih menyebalkan lagi. Semua itu berasal dari pikiranku, terus menerus terngiang di telinga. Aku menjambak rambutku karena frustrasi, bahkan nyaris memukul kepalaku sendiri.
“Andai aja dulu aku lebih kuat,” gumamku yang teredam oleh suara keran. Perlahan, pandanganku mengabur. Semua tampak gelap, hingga akhirnya lenyap.
***
Begitu terbangun, aku sudah terbaring di ranjang UKS. Winda tampak berdiri di dekatku dengan wajah khawatir. Begitu melihatku tersadar, ia mendekat.
“Lan, udah siuman? Tadi ada yang nemuin lo pingsan di kamar mandi,” jelasnya seraya menyerahkan segelas teh hangat padaku.
“Habis nangis, ya? Liat deh, mata lo sembap banget,” ujarnya dengan menyerahkan cermin yang selalu dibawanya ke hadapanku. Benar, siapa pun yang melihatku pasti tahu kalau aku baru saja menangis. “Lo ada masalah apa? Cerita ke gue.”
Aku berusaha mengingat kejadian terakhir di kamar mandi, ya, tubuhku terasa sangat lemah saat itu. Aku mulai limbung dan gelap.
“Lan, kita kan udah temenan sejak lama. Nggak usah sungkan buat cerita ke gue,” tutur Winda diikuti senyum tulus.
“Oh iya, tadi gue telepon ibu lo. Mungkin bentar lagi sampai.”
Aku mengangguk dan tidak bicara lagi. Mencoba memejamkan mata dan memahami semua ini. Suara yang kudengar tadi, apa aku halusinasi?
Tak lama berselang, pintu berderit. Seorang wanita empat puluhan tahun tampak mengedarkan pandangan dengan memasang raut cemas. Begitu melihatku yang terbaring di atas ranjang yang terletak di ujung, ia langsung berjalan tergesa. Setengah berlari mungkin. Ibu langsung memelukku erat, tanpa peduli dengan seragamku yang basah karena pingsan tadi. Keran tetap menyala sebelum ada yang mendobrak pintu, sehingga airnya meluber ke mana-mana.
“Sayang, kamu kenapa? Kalo sakit ngomong, biar dibikinin surat izin. Jangan dipaksa kayak gini,” protes ibu tanpa bisa kupotong sepatah kata pun.
“Ya udah, Lan. Gue ke kelas dulu, ya. Cepet sembuh,” pamit Winda hingga akhirnya hanya tersisa aku dan ibu di sini.
“Bu, sebenarnya aku mau cerita. Tapi nggak tahu mulai dari mana,” tuturku berterus terang. Entah, aku tak tahu lagi harus bagaimana dengan rasa tak nyaman ini. Barangkali ibu bisa membantu.
“Kamu mau cerita apa, Nak? Ibu siap dengerin,” jawab ibu dengan perhatian penuh. Aneh mungkin, seorang Ilana yang begitu penutup pada siapa pun katanya ingin menceritakan sesuatu.
“Ibu ingat nggak waktu aku di asrama dulu, aku masih ingat setiap detik sebelum aku pergi dari sana.”
Lalu mengalirlah cerita yang mungkin akan terdengar biasa di telinga orang lain, tapi berdampak besar buatku. Salah satu kejadian itu begitu membekas di benakku, bahkan mungkin bisa dibilang memberi andil besar pada rasa tidak nyamanku selama ini.
“Saat itu, a-aku ...” ucapanku terpotong oleh cairan bening yang terjun bebas dari pelupuk mataku. Membawa isak tangis jika aku melanjutkan cerita ini.
“Sudah, Sayang. Nggak apa-apa,” ujar ibu seraya mendekapku dalam peluknya. “Nggak perlu diingat-ingat yang sudah berlalu.”
“Tapi, Bu. Rasanya aku kayak nyesel banget, kenapa sih aku harus sakit-sakitan!?” protesku seraya menatap wanita di hadapanku lekat. Pelukan darinya kian erat.
“Lupakan, Sayang. Yang terpenting, sekarang kamu sudah sembuh. Bisa sekolah lagi,” tutur ibu berusaha menenangkanku yang masih larut dalam isak.
Bukannya membaik, perasaanku semakin tak karuan. Melihat keadaanku seperti ini, ibu berinisiatif untuk meminta izin kepada guru piket untuk mengajakku pulang.
***
Sepulang dari sekolah, ibu menceramahiku panjang lebar. Tentang takdir Tuhan yang katanya terbaik buatku, sikapku yang katanya berlebihan, dan perbandingan dengan orang lain yang nasibnya hampir mirip denganku. Dalam rasa putus asa ini, ibu bahkan sempat membandingkan diriku dengan anak tetangga yang bisa menerima keadaan sulitnya.
Kalian tahu, muak rasanya mendengar semua itu. Bukan karena aku bebal dan merasa tak butuh nasehat dari orang lain, tapi aku sudah mencobanya sebelum ini! Berulang kali. Aku mencoba menasihati diriku sendiri atau minta dinasihati orang lain. Tapi nihil, perasaan tidak nyaman ini terus melekat padaku.
“Dasar lemah,” gumamku dengan senyum sinis. Rasanya aku benar-benar ingin mengutuk diriku yang payah ini.
Aku menangis terisak, ada sesak yang tertahan di dada. Seolah memaksa untuk keluar, tapi ada tembok besar yang menahan. Tiba-tiba terlintas ide konyol di kepalaku, sesuatu yang selama ini kusangkal.
“Am i crazy?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja di pikiranku. Aku tidak gila. Tapi seiring aku melawan kenyataan itu, rasanya dadaku kian terimpit. Kepalaku penuh dengan berbagai kemungkinan.
“Aku pengen berhenti dari semua ini.”
***
Ternyata aku tidak bisa menghilang dengan mesin waktu, tak terpikirkan juga untuk mengakhiri hidup. Setidaknya masih ada setitik kewarasan dalam pikiranku. Ada satu hal yang membuatku heran, Tuhan seakan merencanakan semua ini. Sebuah pertanda jika aku akan pulih suatu hari nanti.
Rentetan peristiwa membawaku hingga hari ini, detik di mana aku menyadari jika ada yang sangat menyayangiku. Dalam isak tangis yang tersisa, kesadaran itu mulai muncul. Bahwa semua yang telah ditakdirkan oleh Tuhan adalah yang terbaik untukku.
“Masa lalu yang buruk tak harus disesali,” ucap seorang psikolog saat itu. Aku terhenyak. Mataku mulai berkaca-kaca saat mulai membaca pesan itu.
“Saat kita melihat kertas putih yang bernoda, pasti terfokus pada noda itu. Padahal, lembar putihnya lebih luas dari noda itu. Begitu pun denganmu, jangan fokus pada masa lalu yang buruk. Tapi, berikan potensimu kepada dunia! Sisi putihmu.”
Bersamaan dengan itu, air mataku luruh seketika. Aku sesenggukan, merasa begitu tertampar. Dalam hati aku mengiyakan perkataan itu.
“Aku yakin kamu pasti bisa,” pungkas dokter Nararya mengakhiri konsultasi daring ini.