Muhasabah Diri Lewat Buku “Saleh Ritual Saleh Sosial” karya Gus Mus

Buku Saleh Ritual, Saleh Sosial | Foto dari Gramedia

Membaca buku karya K.H. Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus, membuat hati saya seperti tersentil. Buku Saleh Ritual Saleh Sosial merupakan kumpulan esai yang membahas tema kesalehan secara mendalam. Pada bab 2 berjudul Tanah dan Api misalnya, beliau menjadikan tembikar sebagai perumpamaan filosofis tentang manusia.

Tembikar berbahan dasar tanah liat, bersifat lentur dan lunak. Sehingga banyak yang menjadikan tanah liat sebagai bahan dasar kerajinan patung, tembikar, kendi, gerabah, dan lain-lain. Namun bukankah untuk menjadi tembikar yang berkualitas baik, dibutuhkan proses panjang yang jauh dari kata mudah?

Tanah liat yang awalnya lunak dan lentur itu dicampur dengan air, lalu dicetak sesuai bentuk yang diinginkan. Setelah itu dikeringkan di bawah matahari yang sangat terik supaya tidak lagi lentur. Apakah tanah liat itu sudah kuat sekarang? Sama sekali belum, jika dijatuhkan saja mungkin sudah pecah. Maka dari itu, para pengrajin akan membakar tanah liat yang sudah dibentuk tadi pada suhu yang sangat tinggi, supaya lebih keras dan kuat.

Baru setelah dibakar, jadilah tembikar. Berarti sudah bisa digunakan? Bisa, tapi jika ingin lebih bagus lagi, maka harus dicat dengan warna yang indah. Jika tembikar sudah kuat dan keras, ditambah warnanya telah indah, maka harga jualnya akan semakin tinggi. Berbeda dengan tembikar biasa tanpa polesan sama sekali, hanya berwarna tanah liat.

Mengapa Gus Mus memberikan perumpamaan seperti itu? Ternyata jika diteliti lebih jauh perumpamaan tersebut menyimpan hikmah yang mendalam.

Pertama, manusia juga diciptakan dari tanah. Dengan cara yang Wallahu A’lam, jadilah manusia bernyawa yang dikarunia oleh akal dan hati nurani. Seperti halnya tembikar, untuk menjadi kuat dibutuhkan proses panjang yang tidak mudah. Untuk menjadi manusia yang kuat, Allah memberikan kita ujian. Semakin keras ujian yang kita alami, maka secara tidak langsung kita akan semakin kuat. Baik mental maupun fisik.

Tembikar yang dicat indah dengan tembikar biasa juga merupakan sebuah perumpamaan yang bisa saya baca dari buku karya Gus Mus ini. Cat atau warna indah dari tembikar diibaratkan seperti iman, sedangkan kekuatan dari sebuah tembikar ibarat akal. Dua orang manusia dengan kapasitas otak sama, yang membedakan adalah kadar keimanan seseorang. Sedangkan kadar keimanan hanya Allah dan orang tersebut yang tahu.

Tembikar yang biasa saja, setelah dibakar bisa langsung digunakan. Seperti kendi, tungku, kuali, dan lain-lain. Tembikar jenis ini sangat susah hidupnya, harus bersusah payah menahan panasnya api ketika digunakan untuk memasak. Seperti halnya manusia yang hanya memiliki akal tanpa iman, hidupnya memang selalu mudah. Karena dia pintar, maka kebutuhan jasmaninya akan terpenuhi. 

Namun bagaimana dengan kebutuhan rohaninya, maka tak heran jika kebanyakan orang dengan kapasitas otak tinggi kerap merasakan tidak tenang. Contoh nyatanya adalah para koruptor, mereka pintar bahkan jenius. Bisa mengambil uang negara tanpa ketahuan, tetapi bukankah dalam hati selalu dilanda kekhawatiran?

Lalu bagaimana dengan tembikar yang telah dicat dengan warna yang indah?

Aduhai, hidup mereka amatlah bersahaja. Kerap dijadikan vas bunga, hiasan, patung, dan sebagainya. Mereka tak perlu bersusah payah menahan panasnya api. Manusia pun seperti itu. Jika mereka telah diberi karunia berupa akal, lalu dipoles indah dengan cahaya keimanan, maka di mana pun tempatnya akan merasa tenang. Dalam keadaan lapang maupun sempit akan tetap merasa tenang, karena ada Allah dalam hati mereka.

Membaca buku ini membuat saya menyadari satu hal, bahwa kita tak perlu pergi jauh-jauh untuk mengingat kebesaran Allah. Dalam diri kita sendiri saja banyak sekali keagungan Allah yang tak ternilai harganya. Bukankah diam paling baik adalah dengan merenungi kebesaran Allah? 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url