Pandemi Mengetuk Hati
Headline
berita di televisi pagi ini membuat
Heri
tersenyum getir. Lihatlah, ia merupakan bagian dari persentase itu. Benar, dua
hari yang lalu pabriknya resmi kolaps. Ia harus membayar gaji ratusan karyawan.
Dan untuk menutupi kekurangan dana, terpaksa ia harus merelakan rumah mewahnya.
Tinggal
di rumah kecil tanpa asisten rumah tangga membuat keluarganya harus banyak beradaptasi. Melati, putri semata wayangnya yang terbiasa dengan banyak mainan, kini hanya menghabiskan
waktu dengan peralatan lukis. Istrinya yang biasanya berpakaian modis, kini
harus turun level memakai daster. Kerugian besar yang dialami pabrik tekstil membuat keluarganya jatuh terpuruk.
“Ini
kopinya, Pa.” Pagi itu, Nurma, istrinya tetap setia membuatkan secangkir kopi. Heri sebenarnya tak tega melihat kebahagiaan istrinya
terenggut, tapi bagaimana lagi, keadaan mengharuskan demikian.
Heri menyeruput kopi tersebut, tetapi ia mengernyit saat rasa pahit menyentuh indra
perasanya.
“Nggak dikasih gula, Ma?” keluhnya dengan
wajah getir.
“Papa
harus mulai kerja lagi, persediaan
di dapur udah habis …,”
ujar
istrinya.
Kenyataan
yang begitu pahit, dulu ia bebas ingin makan apa saja. Kini untuk membeli gula
saja tidak mampu.
“
... persediaan beras juga menipis, Pa,” imbuh Nurma.
Helaan
napas beratnya membuat sang istri meneteskan air mata.
“Sabar,
Ma. Insya Allah ada uang, kok.” Heri
berusaha menenangkan istrinya, meskipun sebenarnya tak memegang uang sepeser
pun.
“Iya,
Pa,” jawab sang istri.
***
Sebulan yang lalu.
Seorang
gadis kecil dengan mata hampir terpejam sedang duduk di sofa ruang tamu. Tangannya menggenggam
gulungan kertas. Sesekali ia melirik jam dinding, jarumnya hampir membentuk garis lurus. Akan tetapi, orang tuanya tak kunjung pulang.
Berkali-kali ia menguap, namun dipaksakan
matanya untuk tetap terjaga.
Suara
klakson mobil terdengar dari luar, Bi Ipah segera berlari untuk membuka gerbang.
Gadis
yang semula menahan kantuk berat, kini matanya terbuka lebar. Senyum mengembang
di wajahnya, matanya berbinar bahagia.
“Papa!
Mama!” Gadis kecil itu berteriak bahagia, sambil berlari memeluk Papanya yang baru saja
melangkahkan kaki ke dalam rumah.
“Melati?”
Heri
yang baru tiba
terkejut saat melihat putri kecilnya berlari memeluknya, “kok belum tidur,
Sayang?”
“Papa!
Aku buat gambar spesial buat Papa sama Mama,” ucapnya antusias dengan mata
berbinar.
“Oh,
ya?” jawab Heri
berusaha antusias.
“Papa
lihat, deh,”
ujar
Melati sembari menyerahkan gulungan kertas itu.
“Papa
masih capek, Sayang. Baru pulang kerja, lihat sekarang sudah jam 12 malam. Papa
biar istirahat dulu, ya. Besok aja ya ngasihnya,” Nurma mencoba menjelaskan
pada putrinya, melihat suaminya yang tampak kelelahan.
Gadis
itu menekuk wajahnya, meraih gulungan kertas itu lagi. Kecewa dengan sikap
orang tuanya, ia berlari masuk ke kamar. Sambil menahan air mata, “Papa jahat!”
“Maafkan Papa, Nak. Ini semua untukmu juga,”
gumam Heri lirih.
Kesibukan di pabrik telah membuat jarak
antara dirinya dengan Melati semakin renggang. Tak hanya itu, untuk bersujud
sebentar saja ia tak sempat. Rutinitas sholat berjamaah bersama keluarga
kecilnya perlahan hilang seiring kesibukannya di pabrik.
***
Seperti malam sebelumnya, Heri kembali
lembur.
Pandemi telah membuat penjualan
tekstil menyusut hingga lima puluh persen. Semua pesanan ekspor dibatalkan dan
permintaan dalam negeri juga menurun drastis. Melihat beberapa pusat
perbelanjaan yang lock down, bisa dipastikan jika omset pabrik akan
berkurang.
Semenjak
wabah menyebar, kondisi pasar lokal maupun ekspor menjadi sepi. Pabrik tekstil
miliknya mengalami cash flow, di mana mereka tetap harus membayar PLN
karena penggunaan listrik di bawah ketentuan minimum. Disisi lain, tak ada
pemasukan dari penjualan produk. Belum lagi pemberian BPJS kepada karyawan yang
terancam dirumahkan. Masalah ini membuatnya
harus bekerja ekstra.
Pria
itu mengacak rambutnya frustrasi, pabrik sedang berada di ujung tanduk.
“Kenapa
jadi rumit begini,” Heri
bergumam lirih, menenggelamkan wajahnya di atas meja.
Tiba-tiba
ponselnya bergetar, menampilkan sebuah pesan suara dari putri kecilnya, Melati.
“Papa
pulang malam lagi, ya?” Meski kemarin ia merajuk, tapi anak
itu tak bisa berlama-lama mendiamkan Papanya. Nada pesan berbunyi lagi.
“Padahal,
aku udah buat gambar spesial buat Papa. Masa Papa nggak mau lihat.” Terdengar
jelas nada kekecewaan dari putrinya. Kesibukan di kantor membuatnya lupa, jika
Melati selalu menunggu untuk menunjukkan gambaran itu padanya.
“Maafin
Papa, Sayang.” Ia membalas dengan permintaan maaf,
berharap putrinya bisa mengerti.
Suara
ketukan pintu terdengar dari luar.
“Masuk.”
Manajernya
masuk dengan wajah tertekuk.
“Maaf,
Pak. Saya harus menyampaikan kabar ini...” ucapnya ragu.
Papa
merasakan atmosfer yang berubah dalam ruangan.
“...
pabrik terancam kolaps.”
“Apa!?”
Papa terkejut mendengarnya, “bukankah kita sudah mengajukan permohonan stimulus
kepada pemerintah!?”
“Pemerintah
belum memberikan respons positif, Pak. Sementara, pesanan menurun drastis,
omset penjualan berkurang. Belum lagi denda listrik dan gas yang cukup besar,
dan cicilan yang belum terbayar. Pabrik tak bisa menutup semua kerugian itu.
Jika terus bertahan, kita akan mengalami banyak kerugian, Pak.”
Manajer
itu tetap menunduk. Mengingat perjuangan mereka untuk membangun pabrik, sangat
menyakitkan jika harus gulung tikar semudah ini. Ruangan itu seketika lengang, menyisakan
dua pria dengan muka tegang.
***
“Ma,
maskernya udah selesai dijahit belum? Harus dikirim hari ini juga ke customer,”
seru Heri
antusias
sembari mengemas pesanan.
“Iya,
Pa. Sabar, tinggal sedikit lagi.” jawab istrinya tanpa mengalihkan pandangan dari mesin
jahit tua.
Sejak
pabrik tekstilnya gulung tikar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Heri dan
istrinya membuka usaha kecil-kecilan dengan berjualan masker. Barang yang
mendadak menjadi kebutuhan primer di masa pandemi ini. Berbekal uang pinjaman
dari kolega bisnisnya dan sebuah mesin jahit tua peninggalan mertua, mereka
kembali merintis usaha. Bertahan hidup di masa pandemi merupakan sebuah
perjuangan.
“Pa,
nanti aku ikut nganterin pesanan masker, ya. Semangat, Pa!” kata itu muncul dari
mulut mungil putrinya
yang tak kalah antusias. Dan dukungan itulah yang selalu membuatnya semangat menjalani hari-hari yang sulit.
Setiap hari Melati menemani Papanya
membeli
kain dan mengantarkan pesanan. Jarak renggang keduanya perlahan mulai terkikis.
Heri
kian memahami karakter putri kecilnya itu.
Pandemi
memang merenggut banyak hal. Tapi percayalah, Tuhan selalu menyelipkan hikmah
dalam setiap musibah.
“Terima
kasih, Ya Allah. Cobaan ini telah membuatku kembali dekat pada-Mu. Engkau
mengingatkan padaku, bahwa segala sesuatu yang datang dari-Mu akan kembali
pada-Mu juga.”
***
Terkadang saya tidak percaya bahwa kita telah berhasil melewati masa-masa sulit itu. Semoga musibah itu menjadikan kita hamba yang lebih bersyukur dan lebih kuat dari sebelumnya.
Pandemi udah sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu lohhh. Dan kita berhasil melewatinya. Saat saat pandemi, rasanya hari ini dan besok masih sehat aja udah alhamdulillah
Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Maka rezeki yang harusnya paling disyukuri adalah nikmat beribadah dan nikmat dekat dengan keluarga.