Pandemi Mengetuk Hati

“70 Persen Perusahaan Tekstil Nasional Terancam Tutup Permanen Akibat Pandemi Corona”.

Headline berita di televisi pagi ini membuat Heri tersenyum getir. Lihatlah, ia merupakan bagian dari persentase itu. Benar, dua hari yang lalu pabriknya resmi kolaps. Ia harus membayar gaji ratusan karyawan. Dan untuk menutupi kekurangan dana, terpaksa ia harus merelakan rumah mewahnya.

Tinggal di rumah kecil tanpa asisten rumah tangga membuat keluarganya harus banyak beradaptasi. Melati, putri semata wayangnya yang terbiasa dengan banyak mainan, kini hanya menghabiskan waktu dengan peralatan lukis. Istrinya yang biasanya berpakaian modis, kini harus turun level memakai daster. Kerugian besar yang dialami pabrik  tekstil membuat keluarganya jatuh terpuruk.

“Ini kopinya, Pa.” Pagi itu, Nurma, istrinya tetap setia membuatkan secangkir kopi. Heri sebenarnya tak tega melihat kebahagiaan istrinya terenggut, tapi bagaimana lagi, keadaan mengharuskan demikian.

Heri menyeruput kopi tersebut, tetapi ia mengernyit saat rasa pahit menyentuh indra perasanya.

Nggak dikasih gula, Ma?” keluhnya dengan wajah getir.

“Papa harus mulai kerja lagi, persediaan di dapur udah habis …,” ujar istrinya.

Kenyataan yang begitu pahit, dulu ia bebas ingin makan apa saja. Kini untuk membeli gula saja tidak mampu.

“ ... persediaan beras juga menipis, Pa,” imbuh Nurma.

Helaan napas beratnya membuat sang istri meneteskan air mata.

“Sabar, Ma. Insya Allah ada uang, kok.” Heri berusaha menenangkan istrinya, meskipun sebenarnya tak memegang uang sepeser pun.

“Iya, Pa,” jawab sang istri.

***

Sebulan yang lalu.

Seorang gadis kecil dengan mata hampir terpejam sedang duduk di sofa ruang tamu. Tangannya menggenggam gulungan kertas. Sesekali ia melirik jam dinding, jarumnya hampir membentuk garis lurus. Akan tetapi, orang tuanya tak kunjung pulang.  Berkali-kali ia menguap, namun dipaksakan matanya untuk tetap terjaga.

Suara klakson mobil terdengar dari luar, Bi Ipah segera berlari untuk membuka gerbang.

Gadis yang semula menahan kantuk berat, kini matanya terbuka lebar. Senyum mengembang di wajahnya, matanya berbinar bahagia.

“Papa! Mama!” Gadis kecil itu berteriak bahagia, sambil berlari memeluk Papanya yang baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah.

“Melati?” Heri yang baru tiba terkejut saat melihat putri kecilnya berlari memeluknya, “kok belum tidur, Sayang?”

“Papa! Aku buat gambar spesial buat Papa sama Mama,” ucapnya antusias dengan mata berbinar.

“Oh, ya?” jawab Heri berusaha antusias.

“Papa lihat, deh,ujar Melati sembari menyerahkan gulungan kertas itu.

“Papa masih capek, Sayang. Baru pulang kerja, lihat sekarang sudah jam 12 malam. Papa biar istirahat dulu, ya. Besok aja ya ngasihnya,” Nurma mencoba menjelaskan pada putrinya, melihat suaminya yang tampak kelelahan.

Gadis itu menekuk wajahnya, meraih gulungan kertas itu lagi. Kecewa dengan sikap orang tuanya, ia berlari masuk ke kamar. Sambil menahan air mata, “Papa jahat!”

“Maafkan Papa, Nak. Ini semua untukmu juga,” gumam Heri lirih.

Kesibukan di pabrik telah membuat jarak antara dirinya dengan Melati semakin renggang. Tak hanya itu, untuk bersujud sebentar saja ia tak sempat. Rutinitas sholat berjamaah bersama keluarga kecilnya perlahan hilang seiring kesibukannya di pabrik.

***

Seperti malam  sebelumnya, Heri kembali lembur.

Pandemi telah membuat penjualan tekstil menyusut hingga lima puluh persen. Semua pesanan ekspor dibatalkan dan permintaan dalam negeri juga menurun drastis. Melihat beberapa pusat perbelanjaan yang lock down, bisa dipastikan jika omset pabrik akan berkurang.

Semenjak wabah menyebar, kondisi pasar lokal maupun ekspor menjadi sepi. Pabrik tekstil miliknya mengalami cash flow, di mana mereka tetap harus membayar PLN karena penggunaan listrik di bawah ketentuan minimum. Disisi lain, tak ada pemasukan dari penjualan produk. Belum lagi pemberian BPJS kepada karyawan yang terancam dirumahkan. Masalah ini  membuatnya harus bekerja ekstra.

Pria itu mengacak rambutnya frustrasi, pabrik sedang berada di ujung tanduk.

“Kenapa jadi rumit begini,” Heri bergumam lirih, menenggelamkan wajahnya di atas meja.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, menampilkan sebuah pesan suara dari putri kecilnya, Melati.

“Papa pulang malam lagi, ya?” Meski kemarin ia merajuk, tapi anak itu tak bisa berlama-lama mendiamkan Papanya. Nada pesan berbunyi lagi.

“Padahal, aku udah buat gambar spesial buat Papa. Masa Papa nggak mau lihat.” Terdengar jelas nada kekecewaan dari putrinya. Kesibukan di kantor membuatnya lupa, jika Melati selalu menunggu untuk menunjukkan gambaran itu padanya.

“Maafin Papa, Sayang.” Ia membalas dengan permintaan maaf, berharap putrinya bisa mengerti.

Suara ketukan pintu terdengar dari luar.

“Masuk.”

Manajernya masuk dengan wajah tertekuk.

“Maaf, Pak. Saya harus menyampaikan kabar ini...” ucapnya ragu.

Papa merasakan atmosfer yang berubah dalam  ruangan.

“... pabrik terancam kolaps.”

“Apa!?” Papa terkejut mendengarnya, “bukankah kita sudah mengajukan permohonan stimulus kepada pemerintah!?”

“Pemerintah belum memberikan respons positif, Pak. Sementara, pesanan menurun drastis, omset penjualan berkurang. Belum lagi denda listrik dan gas yang cukup besar, dan cicilan yang belum terbayar. Pabrik tak bisa menutup semua kerugian itu. Jika terus bertahan, kita akan mengalami banyak kerugian, Pak.”

Manajer itu tetap menunduk. Mengingat perjuangan mereka untuk membangun pabrik, sangat menyakitkan jika harus gulung tikar semudah ini. Ruangan itu seketika lengang, menyisakan dua pria dengan muka tegang.

***

“Ma, maskernya udah selesai dijahit belum? Harus dikirim hari ini juga ke customer,” seru Heri antusias sembari mengemas pesanan.

“Iya, Pa. Sabar, tinggal sedikit lagi.” jawab istrinya tanpa mengalihkan pandangan dari mesin jahit tua.

Sejak pabrik tekstilnya gulung tikar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Heri dan istrinya membuka usaha kecil-kecilan dengan berjualan masker. Barang yang mendadak menjadi kebutuhan primer di masa pandemi ini. Berbekal uang pinjaman dari kolega bisnisnya dan sebuah mesin jahit tua peninggalan mertua, mereka kembali merintis usaha. Bertahan hidup di masa pandemi merupakan sebuah perjuangan.

“Pa, nanti aku ikut nganterin pesanan masker, ya. Semangat, Pa!” kata itu muncul dari mulut mungil putrinya yang tak kalah antusias. Dan dukungan itulah yang selalu membuatnya semangat menjalani hari-hari yang sulit. Setiap hari Melati menemani Papanya membeli kain dan mengantarkan pesanan. Jarak renggang keduanya perlahan mulai terkikis. Heri kian memahami karakter putri kecilnya itu.

Pandemi memang merenggut banyak hal. Tapi percayalah, Tuhan selalu menyelipkan hikmah dalam setiap musibah.

“Terima kasih, Ya Allah. Cobaan ini telah membuatku kembali dekat pada-Mu. Engkau mengingatkan padaku, bahwa segala sesuatu yang datang dari-Mu akan kembali pada-Mu juga.”

***

 

 


Next Post Previous Post
3 Comments
  • Monica Rasmona
    Monica Rasmona 19 Juni 2024 pukul 22.11

    Terkadang saya tidak percaya bahwa kita telah berhasil melewati masa-masa sulit itu. Semoga musibah itu menjadikan kita hamba yang lebih bersyukur dan lebih kuat dari sebelumnya.

  • hallobia
    hallobia 19 Juni 2024 pukul 23.51

    Pandemi udah sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu lohhh. Dan kita berhasil melewatinya. Saat saat pandemi, rasanya hari ini dan besok masih sehat aja udah alhamdulillah

  • seratanuswa
    seratanuswa 21 Juni 2024 pukul 11.19

    Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Maka rezeki yang harusnya paling disyukuri adalah nikmat beribadah dan nikmat dekat dengan keluarga.

Add Comment
comment url