5 Tips Mengatasi Perfeksionis Agar Tetap Produktif Menulis

Berapa lama kalian menghabiskan waktu untuk menulis satu artikel? Satu jam, dua jam, atau berjam-jam? Saya sering kagum pada beberapa teman penulis yang dalam sehari bisa menghasilkan 5-6 artikel, padahal mereka juga sibuk di real life. 

Bagi saya sendiri, bisa konsisten menulis setiap hari saja merupakan progres yang patut disyukuri, mengingat betapa sulitnya melawan rasa malas. Apalagi jika mampu menghasilkan banyak tulisan sekaligus, wah langsung self reward, deh.

Namun, tahukah kalian jika ada faktor selain malas yang bisa menghambat produktivitas seseorang? Tepat sekali, perfeksionis. Siapa yang baru mendapat dua paragraf tapi sudah edit dan tulis ulang berkali-kali? (Saya angkat tangan duluan).

Bagi seorang yang perfeksionis, mereka lebih memilih menghabiskan banyak waktu untuk menghasilkan tulisan bagus daripada menulis cepat tapi hasilnya biasa saja. Meskipun tulisan bisa lebih rapi dan tertata, tapi terkadang menjadi perfeksionis juga bisa menghambat produktivitas, lho.

Bayangkan saja ada deadline job artikel yang harus selesai dua hari lagi, tetapi kamu menginginkan karya yang sempurna. Maka yang ada justru menunda, tulis-hapus-tulis-hapus, hingga akhirnya cemas karena deadline makin dekat. Repot bukan?

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan? Menulis cepat dengan hasil biasa saja atau menulis karya yang bagus tanpa terburu-buru?

Penulis Perfeksionis, Baik Ataukah Buruk?

Sebenarnya kembali pada tujuan awal menulis, apakah karena tuntutan pekerjaan atau hobi? Jika karena pekerjaan yang memberikan tenggat waktu, maka sudah pasti kamu harus menyelesaikan tulisan dengan segera. Tetapi jika menulis karena hobi, maka bisa diselesaikan kapan pun sesuka hati.

Untuk mengetahui prioritas menulis, kamu bisa menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

  • Apakah perfeksionis mempengaruhi persepsi terhadap dirimu sendiri?
  • Apakah perfeksionis membuatmu menunda untuk menulis?
  • Apakah perfeksionis membuat produktivitasmu berkurang?
  • Apakah perfeksionis menghalangimu untuk menyelesaikan tulisan?

Jika kamu menjawab ya, artinya perfeksionis mulai menghalangi produktivitas. Kamu perlu memikirkan ulang apakah perlu mengubah kebiasaan perfeksionis ini. Berikut tips mengatasi perfeksionis yang bisa kamu coba.

Tips Mengatasi Perfeksionis Ketika Menulis

Menjaga kualitas tanpa melupakan produktivitas, hal inilah yang mestinya dilakukan. Saya juga menerapkannya ketika mulai menuntut kesempurnaan pada tulisan. Simak selengkapnya.

1. Ambil Jeda Setelah Menulis

Jika sebelumnya kamu menulis sekaligus mengedit tulisan, maka sekarang saatnya mengubah kebiasaan ini. Tulis draf pertama tanpa mengedit sedikitpun, cukup tuangkan segala idemu. Jika sudah selesai, maka kamu bisa mengendapkan tulisan selama beberapa hari (tapi jangan lama-lama, nanti keburu malas).

Setelahnya baca ulang tulisan tersebut, biasanya akan muncul sudut pandang baru terkait topik yang ditulis. Hal ini akan memudahkan proses penyuntingan, sehingga kamu tidak perlu mengerjakan dua kali. Memasukkan ide baru sekaligus menyunting tulisan lama akan lebih efektif.

2. Berhenti Mencari Validasi

Setiap orang pasti menerima kritik, begitu pula dengan penulis. Membahagiakan semua pembaca adalah hal yang mustahil dan melelahkan jika dilakukan. Cukup tulis yang menurutmu benar, lalu publikasikan. Jika terus mengikuti pendapat orang lain kapan tulisanmu selesai?

3. Ambil Skala Prioritas

Kita terbiasa dihadapkan dengan pilihan, termasuk apakah ingin menghabiskan waktu untuk menjadi sempurna atau memaksimalkan kemampuan dalam menulis. Dua hal ini tentu berbeda, daripada menunggu sempurna akan lebih baik jika kita mengerahkan kemampuan maksimal untuk menulis. Entah hasilnya sempurna atau tidak, tetapi itu adalah upaya terbaik yang bisa kita lakukan.

4. Tulis Untuk Diri Sendiri 

Banyak penulis hebat yang menulis untuk dirinya sendiri, mereka menutup mata bahwa mungkin tulisannya akan dinikmati oleh banyak pembaca. Hal ini membantu mengurangi tekanan saat menulis, seperti keinginan disukai oleh pembaca. Dengan menulis untuk diri sendiri, maka kita akan lebih leluasa dalam menuangkan ide tanpa bergantung pada perspektif orang lain.

5. Tulis Aja Dulu

Berpikir sebelum bertindak memang penting, tapi terlalu lama berpikir juga membuat kita jalan di tempat. Take action, tulis aja dulu. Karena MS Word penuh tulisan tapi banyak kesalahan lebih baik daripada MS Word yang kosong.


Tanpa kita sadari, sikap perfeksionis sering kali didasari perasaan takut akan ketidaksetujuan orang lain. Mengalir saja dalam menulis, toh setiap kritik yang datang tetap bisa kita jadikan evaluasi agar tulisan semakin berkembang. Dengan mengikuti tips mengatasi perfeksionis tadi, kita bisa tetap mempertahankan kualitas tanpa kehilangan produktivitas.


Next Post Previous Post
1 Comments
  • Awalia Widya
    Awalia Widya 14 Juni 2024 pukul 07.32

    Penting banget buat saya nih, Kak. Terima kasih sudah berbagi, Kak.

Add Comment
comment url